Friday, November 16, 2007

Sabar, Shubah dan Ikhlas

DALAM mengarungi bahtera kehidupan dunia, laksana lautan yang luas, terkadang terasa dihempaskan ombak dan gelombang dahsyat, terkadang pula seperti tiupan angin buritan yang mangasyikkan. Namun, yang terbanyak karena namanya laut, adalah berombak. Kecil dan besar, tetapi didalamnya ada mutiata dan kekayaan. Yang tidak bergelombang hanyalah danau, tapi didalamnya biasa ada buaya. Artinya, selama namanya berlayar, riak dan gelombang harus dihadapi. Demikianlah hidup. Sebab itu perlu banyak bersabar. Celakanya, ada saja orang bilang, terlalu sabar, cepat masuk kubur. Itu tidak benar.!. Bertentangan Al-Qur’an.

Sabar:
Menurut Imam Al-Gazali, sabar itu artinya bersemayamnya dalam dirti pembangkit ketaatan, sebagai ganti pembangkit hawanafsu. Ibadah fardhu dan sunnat tidak mungkin dapat dijalankan dan maksiat tidak mungkin dapat dihentikan, tanpa adanya kesabaran.

Al-Quran menyatakan: “ Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin yang memberi petunjuk, dengan perintah Kami, tatkala mereka itu bersabar (QS. Al-Sajadah 24)

Di ayat lain, “Sesungguhnya hanya orang bersabarlah, dicukupkan pahalanya tanpa batas ”.(QS. Al- Zumar 1O). Lebih tegas lagi : “ Dan gembirakanlah orang-orang yang mampu bersabar. ( QS.2: 155 ).

Menurut Tafsir Zubratafsir, karena dunia ini bukan akhir dari segalanya, maka keselamatan dan kesuksesan lain, akan diperoleh dengan baik berupa ampunan, pujian, dan rahmat; dari satu rahmat, ke rahmat yang lain, di dunia dan di akhirat nanti.

Macam-macam kesabaran dalam Al-Qur’an:

1) Sabar dalam pembelaan negara : “ Hai orang-orang mukmin, bersabarlah kamu dan kuatkan kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS.3 : 2OO).

2) Sabar dalam perbedaan keyakinan: “Jika golongan dari kamu beriman dan golongan lain ingkar, maka bersabarlah hingga Allah menetapkan hukumnya diantara kita. QS.7:87).

3) Sabar memelihara persatuan dan kesatuan: “Taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantah, menyebabkan gentar kekuataamu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang sabar”. (QS.8 : 46).

2) Sabar menjalankan salat: “Perintahkanlah keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu mengerjakannya”. ( QS. 2O:132).

3) Sabar mernghadapi musibah: “Sungguh Kami akan uji kamu dengan sedikit ketakutan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira, yang mampu bersabar “.(QS.2 :155).

4) Sabar dalam nahi mungkar: “Bersabaarlah yang akan menimpamu”(QS.Lukman).

Menurut ulama Tafsir, penggalan ayat ini adalah salah satu pesan Lukmanul Hakim kepada puteranya, bahwa dalam mencegah kemungkaran (berdakwah), ada resikonya. Misalnya, jika kita mengajak seseorang kepada yang makruf, misalnya mengajak ke mesjid salat jamaah, jika yang diajak tidak mau, tidak akan marah, paling-paling menolak halus, dan berkata, “duluanlah, nanti saya menyusul ” ( hakikatnya tidak bersedia). Tapi jika seseorang dihalangi yang sementara berbuat mungkar, misalnya menghentikan sedang asyik minum khamar atau menjudi, biasanya marah dan kalau perlu mempertaruhkan jiwanya. Sebab itu wasiat khusus Lukman, dengan kalimat, “bersabarlah atas resiko yang akan menimpamu”. Jadi, jika kita sedang berlayar, bersiap menghadapi sesuatu yang akan menimpa.

Shuhbah:
Shuhbah (bukan syubhat), artinya pergaulan. Lengkapnya : Memiliki pengaruh pergaulan yang signifikan dalam membentuk kepribadian, akhlak dan tingkahlaku manusia.(21)

Pentingnya pergaulan:
1) Seseorang akan mengambil sikap-sikap sahabatnya melalui bidang spiritual, yang membuatnya mengikuti tingkahlaku sahabatnya. Jika bergaul dengan orang saleh, pasti ada pengaruhnya sedikit. Jadi, untuk menjaga moral, sebaiknya kita selektif memilih sahabat. Yang bisa menasehati kekeliruan kita, itulah sahabat sejati. Sahabat yang suka memuji-muji, itulah yang paling berbahaya. Kerusakan anak kita di rumah, terutama pergaulan dengan sahabatnya..

2) Ketika Nabi Musa berhadapan Fir’an, Tuhan memesan pesan, ucapkan “ Qaulan Kariman”( sampaikan tuturkata yang mulia .) Menurut akhlak Islam, sahabat yang baik ialah yang berani menegur kesalahan kita, dan bukan hanya sahabat yang suka memuji atau membiarkan kita tertsesat. Yang benar kita katakan itu benar, yang salah, juga demikian. Bukan sahahabat yang diam, atau suka memuji-muji. Kalau sudah diberi tahu, lalu menolak, kita sabar, karena hakikat kebenaran itu adalah hidayah dari Allah.Selalu nerasa diri hebat,ujub dan istimewa orang yang dinasehati, padahal semuanya itu bisikan dan permainan setan.

Didalam Al-Qur’an dinyatakan “ Katakanlah, inginkah kamu, kuberi tahu orang yang merugi amalnya?. Yaitu orang-orang yang menyangka dirinya, berbuat sebaik-baiknya ”( QS. Al-Kahfi 1O3).

Sabda Rasul “Seorang mukmin adalah cermin mukmin yang lain” (HR. Bukhari ).
Sedang mukmin yang sempurna, hanyalah Rasul, “ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasul, suriteladan yang baik bagi diri kalian”. (QS.Al-Ahzab 21).

3)janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan, dari mengingat Kami, serta mengikuti hawanafsunya, melewati batas.(QS.Al-Kahfi 28).

4) Dan ikutilah jalan yang kembali kepadaKu (QS.Lukman 15).

5) Dan (ingatlah), saat orang zalim menggigit kedua tangannya,seraya berkata : alangkah baiknya, kalau dulu tidak menjadikan orang-orang yang memnyesatkan, fulan (teman akrabku). Sesungguhnya dia terlah menyesatkanku ketika al-zikir(agama) itu datang kepadaku(QS. Al-Furqan 29).

6) Teman-teman akrab pada saat itu, sebagian menjadi musuh dengan yang lain,kecuali orang-orang yanmg bertakwa (QS. Al-Zukhruf 67).

7) Allah mengissakan ucapan Musa, ketika bertemu dengan Khidir AS, setelah dia memiliki niat yang tulus, menanggung beban yang berat, menempuh perjalanan panjang. “Bolehkah aku mengikuti, supaya mengajarkan ilmu yang benar, diantara ilmu-ilmu yang diajarkan kepadamu ? (QS. Al-Kahfi 26)
Dari beberapa ayat mengenai pentingnya sahabat dalam pergaulan, ternyata ada yang dapat mempengaruhi dengan baik dan ada pula justru merusak; bahkan tidak berhasil mengejar ilmunya, karena tidak disiplin, seperti antarta Khidir dan Musa.
Salah satu hadis dari sekian banyak, seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).(28).
Ayat dan hadis diatas, mendesak kepada kita, memilah sahabat yang baik dan benar serta mempunyai pendirian istiqamah. Diantara kesuksesan Rasul, karena hampir semua sahabatnya, mendekati dengan akhlak yang dipraktikan Rasul : Tidak gila harta, jabatan dan kehormatan, serta hidup sederhana dengan mengutamakan keikhlasan dalam berdakwah, serta penyebaran Islam ke luar jazirah Arab.

Ikhlas.
Dalam surah Al-Bayyinah ditemukan sebuah ayat yang merupakan kunci asasi diterimanya segala amal muslim, selama hidup di dunia. Ayat itu artinya, “ Dan tiadalah mereka diperintahkan, kecuali menyembah Allah dengan tulus ikhlas ( QS.98: 5).

Ayat ini berarti, bahwa baik amal fardhu atau sunnat, barulah mendapat penilaian amal manakala dilakukan dengan baik dan benar, serta jauh dari syirik (mempersekutukan Allah), termasduk karena riya, ujub dan sum’ah.’. Dan itu juga menjadi syarat utama jika seseorang mendambakan bertemu Allah di akhirat nanti, dimana bagi kaum sufi menyebutnya Hakikah, Ma’rifah dan Musyahadah.

Pengakuan keikhlasan bahwa seorang muslim akan beramal sesuai jalan Hanif dan mengakui dirinya, dan bukanlah orang yang mensyarikatkan Tuhan (Musyrikin).

Menurut Tafsir Al-Misbah, Hanifan berarti yang lurus dan benar. Kata ini mulanya digunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringannya,. kepada telapak kaki pasangannya, menjadikan manusia dapat berjalan lurus, menunjukan ajaran Ibrahim adalah agama yang mengarahkan harus seimbang antara kebutuhan rohani dan jasmani. Juga menunjukan suatu ajaran Hanif yang lemah lembut, dan bukan atas dasar taklid. Dengan demikian Tuhan yang aku hadapkan wajahku ini adalah Tuhan yang Wajib wujud, Pencipta dan Maha Kuasa telah memberi petunjuk kepadaku, di masa kini dan akan dating, dalam kondisi dan keadaan apapun. Tidak mengharap sedikitpun sembahan-sembahan yang mempersekutukan Tuhan, yang tidak kuasa memberi manfaat atau mudarat, kecuali jika Tuhanku menghendaki dan membimbingku. Aku mengembalikan hal ini kepada Tuhanku, yang mengetahui dan meliputi segala sesuatu. Masa kini, dan akan dating

Akhirnya, setelah menguraikan Tasawuf sunni yang cocok pembinaan akhlak dan tidak bertentangan Al-Qur’an, selama 4 kali Jumat, misalnya Maqam : Taubat, Zuhud, Khauf, Mahabbah, Syukur, Takwa dan Ikhlas, dan masih banyak lagi, kiranya inilah salah salah satu metode alternative, yang dapat memperbaiki penyimpangan prilaku muslim yang keliru, di daerah ini, disamping metode lain. Mudah-mudahan tulisan ini, ada manfaatnya dan diridhai Allah. Amin.
H. Mochtar Husein

No comments: