Saturday, November 10, 2007

Etika membaca Alquran

Diantara amal yang mulia adalah membaca (Tadarus) Al-Qura’n. ( Alquran). Di desa-desa yang fanatik agama, tadarus dan menamatkan Alquran terutama di bulan Ramadhan adalah kebanggaan tersendiri. Anak-anak desa yang baru tamat Alquran bukan bertanya kepada sesama anak, apa kamu sudah nonton film kartun A seperti di kota ?, tapi yang ditanyakan kepada temannya, apakah anda sudah pernah tamat Alqurannya ? Atau kini sudah sampai pada juz keberapa.?. Yang lazim dikampung, sesuai banyaknya bilangan puasa. Namun, ada yang mampu menamatkan membaca Alquran, tiga kali atau lebih empat selama satu bulan puasa Bahkan ada yang menamatkan tiap 3 hari, karena tadarus juga di tempatnya bekerja.Bagi mereka bukan tilawahnya diutamakan dalam pertandingan, agar memperoleh hadiah, tapi tadarus Ramadhan betul-betul menjadi tradisi religius turun temurun untuk mencari pahala, seperti salat tarawih, witir dan bersadakah.Dan alangkah ruginya muslim di kota jika sudah melupakan tradisi membaca Alquran terutama di bulan Ramadhan. Atau merasa tidak diperlukan lagi karena banyaknya kaset mengaji yang dibunyikan pengurus mesjid dengan suara keras,kadang-kadang mengganggu orang lain. Sekalipun membunyikan kaset mengaji di negera lain tidak didapati, dan hanya dikenal di negeri ini. Di negera lain, sekalipun konstutusinya berdasar Islam, tidak terdengar pengajian Alquran dari mesjid, kecuali azan..
Bagaimana Etika membaca Alquran ?

Dibaca dengan Tartil:
Karena membaca Alquran sama dengan berdialog dengan Allah, maka Alquran menggariskan “Wa rattil al- Qur’an Tartila “ (Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan) (QS.73:4).

Dari ayat tersebut dipahami, bahwa Alquran wajib dibaca, dengan suara perlahan dan tidak mengganggu orang lain disekelilingnya. Apa sebab ?.Karena ayat ini turun sehubungan dengan turunnya perintah salat malam (Tahajjud).Namun setelah turun ayat ke 2O surah yang sama, maka hukum membacanya otomatis tabdil menjadi sunnat pula. Ayat itu menyatakan “ Faq rau ma tayassara min al-Qur’an” (Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Alquran).

Menurut sebagian mufassir ayat tersebut dipahami bahwa membaca Alquran, baik dalam salat atau diluar salat, tidak diharuskan perlahan terus, tapi disesuaikan materi ayat yang dibaca atau salat yang dilakukan. Salah satu kegagalan dan kelemahan sebagian Qari dan Qariah kita jika bertanding dalam iven internasional, karena kurang memahami ayat-ayat mana bersem,angat dan sedih.Apalagi tidak memahami etika membaca, mana yang boleh bi al jahr (jelas makhraj) atau agak bi al sirr ( kecil sekali). Artinya Qari kita tidak cukup hanya mengetahui “makhraj, ghunnah dan madd” ayat, tapi hendaknya mendalami pula ilmu tafsir,misalnya asbab nuzul dan munasabah dengan ayat lain. Disamping itu harus menghayati makna ayat-ayat Tabsyir (menggembirakan) dan Tandzir (ancaman).

Menurut mufasir Syekh Ali Al-Shabuni yang dimaksud membaca dengan tartil pada surah Al-Muzzammil diatas, dengan adanya perintah tartil, hakikatnya bahwa yang membaca Alquran itu disamping untuk dinikmati lagunya dan suara Qari’ yang membacanya, maka yang paling mendasar pula, agar setiap muslim hendaknya membacanya dan menghayati isi yang terkandung didalamnya, kemudian diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Alquran itu adalah sebagai Hudan linnas (petunjuk bagi manusia).(Juz 3 : 466).

Menurut Aisyah RA.”Adakalanya Rasul SAW membaca Alquran dengan Jahr (Kedengaran orang lain,tapi tidak seperti pengeras suara) dan adakalnya hanya dengan khafat (kedenganran untuk dirinya)(HR.Ibnu Majah).

Seorang sahabat melaporkan kepada Nabi: “ ya Rasul saya mampu menamatkan Alquran seluruhnya tiap malam”. Nabi menjawab, “ cukup sebulan sekali”. “Tapi saya mampu karena saya masih kuat dan muda”, jawabnya. Kata Nabi “Kalau begitu, biarlah setiap sepuluh hari sekali”. “Saya mampu lebih dari itu”, kata sahabat.

“Kalau begitu, cukup sekali sepekan”, kata Nabi. Kemudian si pemuda masih mampu lebih dari itu, tapi Nabi melarang, “ khawatir jangan sampai anda tidak mampu secara rutin dalam waktu yang panjang”. .(HR.Ibnu Majah).

Berdasarkan hadis tersebut, maka Membaca (Tadarus) Alquran yang dianjurkan, dan ideal adalah sekali sebulan bagi yang sudah tua, atau seminggu sekali bagi yang masih muda dan kuat, agar rutinitas ibadah itu bersinambung dalam waktu yang lama, dan tidak berkesan mundur dari agama, mulanya kencang akhirnya menurun.
.
Malaikat turun:
Dijelaskan oleh Rasul SAW: “Sesungguhnya membaca Alquran adalah perkataan dan doa yang paling afdal dari semua perkataan.” (HR.Bukhari).

Ketika seorang sahabat Nabi sedang membaca Alquran diwaktu malam, tiba-tiba sahabat lain menyaksikan datangnya sinar benderang dari langit, ketika ditanyakan “ sinar apa itu ya Rasul ?” .Dijawab: “ Sesungguhnya sinar yang benderang itu adalah malaikat yang turun, ka rena tertarik suara pembaca Alquran.” Didalam surah Al-Qadar di bulan Ramadhan demikian juga.

Diriwayatkan oleh Aisyah RA bahwa sesungguhnya Rasul SAW sebelum tidur setiap malam ia selalu membaca tiga surah yaitu “ Qul Huwallahu ahad...,Qul a’udzu birabbil falaq…dan Qul a’udzu birabbinnas”. (HR.Bukhari).

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, maka sebaiknya seorang muslim dan muslimah hendaknya membiasakan membaca doa sebelum tidur itu serta berusaha menamatkan Alquran 3O juz selama Ramadhan, agar ketenangan batin dan pengawalan malaikat selalu berada disamping kita. Dan adalah suatu kerugian besar bagi seorang muslim, kalau hanya mampu membaca berpuluh lembaran surat kabar setiap hari, lalu tidak pernah membacanya kitab sucinya Alquran sekalipun hanya selembar sehari.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa salah satu nama Alquran adalah bacaan yang selalu harus dibaca setiap hari. Mengetahui artinya, atau tidak, tetap memperoleh pahala yang banyak, terutama di bulan Ramadhan. Berbeda dengan membaca Surat Kabar, tidak mempunyai pahasla biartt sedikit..

Sabda Rasul SAW Hasad (Irihati) kepada orang lain adalah larangan agama yang keras, karena dapat menghapuskan amal baik, tapi dikecualikan dalam dua hal (1) Seseorang yang telah mengetahui isi Alquran dan selalu membacanya diwaktu malam dan siang (2) Seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu disedekahkannya sebahagian di waktu malam dan siang (HR.Bukhari).

Selanjutnya Nabi menjelaskan “ Orang yang paling afdal diantara kalian ialah orang yang mempelajari Alquran lalu mengajarkannya pula” (HR.Bukhari).
Seorang pemuda mendatangi Nabi memohon agar dikawinkan dengan seorang wanita, lalu Nabi bertanya, “ harta apa yang ada padamu ?.” Pemuda menjawab, “tidak ada sesuatu ya Rasul.”. “Sekalipun sebentuk cincin besi ?” , kata Raul. “Ya, sekalipun cincin besi.” Lalu Nabi bertanya pula, “ ada surah dalam Alquran yang kamu hafal ?”.Di jawab, “ada tiga surah”.. Nabi memerintahkan, “ itulah yang kamu berikan kepada wanita itu”. Ka ta nabi “ Sekarang aku kawinkan, bersama dengan apa yang ada padamu itu dari Alquran”. (HR.Bukhari).

Akhirnya, setelah mengemukakan kemuliaan Alquran dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat, maka sebaiknya seorang muslim.

(1) Membaca dan menamatkan Alquran minimal sekali sebulan dalam bulan Ramadhan atau diluar Ramadhan, mengajarkannya kepada anak cucu serta berusaha mengamalkan isinya secara bertahap yang kita pilih sendiri ayat mana yang lebih utama diamalkan setiap tahun,selain yang sudah jalan.

(2) Agar kemuliaan Alquran lebih terjaga maka hendaknya isinya selalu diingat sebagai “Hudan linnas” (petunjuk bagi manusia) dan sebagai “Syifa’ aun (penawar bagi mukminin) serta mengingat etika membacanya yakni menghadap kekiblat, tidak keras dan tidak terburu-buru ( tapi tartil) yang tidak mengganggu ketenteraman sesama muslim atau non muslim, terutama diwaktu malam.Corong subuh dari mesjid, sebaiknya juga pelan dan hanya sepuluh menit sebelum masuk waktu.

(3) Meyakini bahwa membaca Alquran sama sedang berdialog dengan Tuhan, baik dalam salat atau diluar salat sehingga diperlukan suara kita rendah, perlahan-lahan, tawadhu’ dan khudhu, di depan Al-Khaliq.’

No comments: